Langsung ke konten utama

Legenda si boru sangkar sodalahi br manurung


tobatabo.com
Legenda Si Boru Sangkar Sodalahi Srikandi Yang Selalu Setia Menjaga Kehormatan Keluarga
TobaITLabs


Kisah tentang keturunan Si Marsaitan adalah kisah paling tragis sekaligus heroik dari Tanah Batak.

Yaitu kisah tentang seorang anak yang tidak diinginkan oleh ibunya, yang lahir dari cinta palsu, karena sang ibu, perempuan yang hebat itu, berpura-pura cinta dan menjadi istri musuhnya karena ingin membalas dendam atas kematian suami yang sungguh dia cintai. 

Di Negeri Urat, Pulau Samosir, berbahagialah Tuan Sipallat dengan istri junjungan jiwanya, Si Boru Sangkar Sodalahi, asal klan Manurung, penguasa Pegunungan Sibisa di kaki Gunung Simanuk-manuk.

Ini adalah obat baru yang tingkatkan daya penglihatan 89 kali lipat. Gunakan...

Tuan Sipallat dan istrinya bermukim di Suhut ni Huta. Karena hidup di dunia, bukan di surga, maka suatu ketika pecahlah perang dengan tetangga. Tuan Sipallat mengajak enam saudaranya untuk bangkit menghadapi musuh.

Tapi, tak seorang pun yang tergerak hatinya. Tuan Sipallat maju menggempur lawan sendirian. Ia kalah, ditawan, kepalanya dipancung, dan oleh panglima dari suku pemenang, sebagai penghinaan tiada tara, kepalanya ditanam, dijadikan alas tangga batu menuju rumahnya. 

Dan, martabat klan yang kalah perang itu benar-benar terinjak-injak lagi ketika Si Boru Sangkar Sodalahi membuat geger marga membikin malu negeri. Bayangkanlah, dia main mata, bercumbu-rayu, dan kawin pula dengan kepala suku yang memenggal kepala suami pujaannya.

Sehari-hari pekerjaannya menenun. Dalam belaian suaminya yang baru, Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin lagi, dan hasilnya lebih indah pula.

Disuruhnyalah suami barunya itu membuatkan bahan pewarna yang lebih bermutu, yang dibuat dari ramuan alam, sehingga suaminya itu sibuk sampai malam, tanda kasihnya pada istrinya yang cantik, istri lawan yang telah dia taklukkan dengan darah.

Apabila malam sudah melingkup seluruh gunung, berbaringlah sang suami di pangkuan istrinya itu, hanyut dalam elusan tangan dan bujuk-rayu Si Boru Sangkar Sodalahi. 

Suatu malam, malam penghabisan, dalam belaian dan kata-kata yang menenteramkan hati, yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi kepada sang suami, yang dengan manjanya merebahkan kepala di pangkuan si istri, maka sang suami, karena lelahnya bekerja seharian, langsung tertidur lelap dan mendengkur. Tangan Si Boru Sangkar Sodalahi membelai jakun di leher suaminya.

Namun, sekali ini, bukan asmaranya yang menggelora, tapi keinginannya menuntaskan obsesi untuk melampiaskan dendam atas kematian suami pertamanya, Tuan Sipallat.

Terkesiap darahnya, dia menoleh ke kiri dan ke kanan seraya diam-diam menyisipkan tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya sebilah pedang. Cahaya samar pelita terpantul di mata senjata itu.

Dia menatap leher suaminya, dengan dendam yang ingin dituntaskan tentu, dan secepat kilat ditebaskannya pedang itu. Dan kepala laki-laki itu terpelating, menggelinding, dan darah bersimbah di peraduan di mana cinta kepura-puraan baru saja berlalu.

Lantas dia berdiri, mengambil kain ulos ragihidup dari peti pusaka. Bergegas dia turun ke bawah. Sambil menangis tanpa suara, dia gali tengkorak suaminya dari dasar tangga batu itu.

Dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos pusaka. Dia naik lagi ke rumah, diambilnya tikar bernoda, dengan perasaan jijik dibalutnya kepala dari musuh suaminya, dan dia berangkat menuju Suhut ni Huta, pusat marga suaminya yang pertama. 

Sampai di huta (desa) itu, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang huta yang tegak bagaikan benteng. Kepada penjaga dia mengatakan dia datang untuk menyerahkan sesuatu.

Kedua penjaga, yang mengenalnya, kontan meninggi suaranya, mengusirnya. ”Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan, kepalamu dan kepala suamimu itu!” 

Si Boru Sangkar Sodalahi tidak menyerah karena ucapan yang menyakitkan itu. Niatnya tak tergoyahkan. Lalu, kepada penjaga di mengatakan dia harus bertemu dengan kepala marga dan percayalah bahwa dia tidak akan pergi sebelum diizinkan masuk.

Wali adat pun dibangunkan, perundingan digelar di antara mereka. Hasilnya: Si Boru Sangkar Sodalahi diperkenankan masuk menghadap. 

”Malam ini saya membawa kembali leluhurmu, kembali pulang ke rumah ini, melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi mantap seraya melepas gendongan dan dengan takzim menggelar tengkorak suaminya yang pertama. ”Inilah junjungan kita, yang saya tebus kehormatannya.”

HEBOH! METODE MEMULIHKAN PENGLIHATAN TANPA OPERASI

Dengan syahdu katanya pula: ”Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah istri yang setia sampai mati.”

Pemimpin rapat adat diam bagai paku. Yang hadir hanya bisa menangis memandangi tengkorak yang tergeletak dalam kebesaran ulos. 

Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat untuk membersihkan nama perempuan yang gagah berani menerjang langit itu.

Kedudukannya di dalam marga dipulihkan, dan anak yang dikandungnya dianggap sebagai ”darah daging kami sendiri, oleh karena ia adalah buah bisikan roh leluhur.”

Maka, lahirlah seorang anak laki-laki, dan diberi nama Si Marsaitan, yang salah seorang keturunannya kelak dikenal sebagai sastrawan besar dunia dari Tanah Batak, Sitor Situmorang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paima borngin on marhaujungon tu manogot ni ari, huendehon ma jolo sada lagu nauli "UJU SI NAUJUI,,,,,,,,,,"

Molo huingot sude akka naung salfui, gabe merasa tarhatotong do au. Alana kenyataan jauh dari prediksi, angan-angan melenceng dari pangidoan. Inna roha hian naujui, ikkon tarsongon bittang ma iba saonari , hape lak margambo-gambo ma iba tong di arena panderitaan i. Ue tahe dabagian,,, Sai nirippu do boi sipangido, hape ikkon sadalan do nasib dohot parejekian dohot parngoluan. Manang pe,,,, Atik na sotikkina dope ro ari nabinsar i, ni paima ma jolo 10 taon nai bah, Atik beha disi arina,,, Sabar,,, sabar,,, hingga larut malam,,,, sambil menunggu subuh tiba,,,

On namasa dibulan 8

Gurget di bulan ualu on songon na sepi do bah alana sibuk karejo mangalului parbodarian. Arian borngin karejo alai tong hautangan, tong mai ala ni krisis ni negara on, gok jolma i sengsaro marsikkor-sikkor. Haru utang indon pe tu halak luar sekitar Rp. 3.779 triliun sahat tu nuaeng, jala 1 dollar amerika Rp. 13rb lobi, aha so maup be akka bangso ni indon on. Boha do annon ujung ni nagari on bah, nga dililit utang jala dihimpit di segala arah. @

On ma tanda tanda hepeng palsu

1. Hepeng KOIN 100 (CEPEK) 500 (gopek) sian perak. Coba tes tu aek, molo mumbang do hepeng koin 500 i bararti hepeng i PALSU, ALIAS hepeng meam-meam. 2. Hepeng 1000, coba loppit 5 hali jala odothon gogo, baru bukka muse jala paherbang, molo bengkok do kalewang ni si pattimura, bararti hepeng i palsu. 3. Hepeng 2000 rupiah, coba tes, dohot piso cukur, jala cukkur kumis ni si pangeran antasari, anggo boi do dicukur kumis ni si pangeran antasari i dengan mulus berarti hepeng 2000 i PALSU. 4. Hepeng 5000. Coba buat mancis manang loting, baru coba tutung jenggot ni si diponegoro, molo mangelak do pangeran diponegoro i, berarti hepeng 5000 i palsu. 5. Hepeng sappulu ribu (10.000). Coba roddam hepeng harga sappulu ribu i tu aek, molo toppu lonong gambar bangunan RUMAH LIMAS i, manangna coba ketok pintu RUMAH LIMAS i, anggo adong do halak mambukka pintu i sian bagas,,,, berarti hepeng jadi-jadian, berarti hepeng 10.000 i PALSU. 6. HEPENG 20rb, 50rb, 100ru, Coba tes ...